Kamis, 16 April 2020

Pemimpin: Penguasa atau Pelayan?(Refleksi kepemimpinan dari teladan Yohanes Paulus II)


            Yohanes Paulus II diangkat menjadi Paus setelah pendahulunya Yohanes Paulus I meninggal dunia setelah satu bulan lebih menduduki Tahta Suci Vatikan. Segera setelah dinobatkan sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik, tatkala ia untuk pertama kali bertemu dengan umat di lapangan Santo Petrus untuk memberikan berkat, ada teladan (baru) yang ia tunjukkan. Sebelum memberikan berkatnya terlebih dahulu ia meminta agar umat mendoakan dia, baru setelah itu ia memberkati umat yang hadir.
            Suatu yang harus disadari bahwa perbuatannya (meminta doa) menunjukkan bahwa ia menghormati umatnya. Ia menyadari dengan sungguh bahwa dalam diri umat, Tuhan juga hadir sehingga layak dan pantas baginya untuk memohon doa. Adalah benar jika dari teladan kecil ini bisa disimpulkan bahwa ia menghormati dan mencintai umatnya. Hal ini bisa dilihat dari ensikilik pertama (Redemptor Hominis) yang ia keluarkan menempatkan manusia sebagai pribadi yang luhur. Manusia (umat) mesti memiliki martabat yang luhur sebagai Citra Allah dan karena itu relasi yang dibangun harus di atas suatu pemahaman bahwa ia adalah yang persona bukan hanya sebatas instrumen.
            Kenyataan bahwa Yohanes Paulus II menghormati dan mencintai umatnya tidak hanya sebatas pada dikeluarkannya ensiklik Redemptor Hominis. Lawatannya ke berbagai negara mau menunjukkan bahwa tidak hanya sebatas berteori tentang melihat manusia sebagai persona tetapi lebih dari itu ia sendiri telah membuktikannya dalam aksi nyata. Untuk orang, bangsa dan negara yang masih melihat sesamanya sebagai instrumen belaka, Paus dengan penuh keberanian datang, masuk dan mampu mengubah pola pikir tersebut. Mereka pun mulai dan akhirnya menerima pembaharuan dan perubahan (manusia sebagai persona) yang dibawanya.
            Dalam masa kepausannya (kepemimpinannya) praktik mendengarkan kerap kali ia tunjukkan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya audiensi yang ia lakukan baik dengan para petinggi gereja, umat (orang tua dan kaum muda) juga dengan agama-agama lain. Ternyata ajaran “mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara” telah menjiwai sosok ini. Baginya aktivitas “mendengar” adalah hal terpenting agar relasi tetap berjalan baik.
            Tatkala menyebut nama Galileo Galeli, manusia diingatkan pada kesalahan (besar) yang dibuat oleh Gereja. Gereja yang memandang Kitab Suci sebagai sumber dan pedoman segala ilmu dalam arti sempit dan keras sempat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Ajaran “Heliosentrisme” (matahari pusat segala kehidupan) yang dilahirkan oleh Copernicus (seorang pastor) kemudian dikembangkan (diterkenalkan) oleh Galileo Galeli mendapat kutukan dari Gereja. Gereja mengutuki paham ini karena bertentangan dengan Kitab Suci yang mengajarkan paham “Geosentrisme” (bumi pusat segala sesuatu). Baru kemudian diketahui paham Geosentrisme salah. Gereja berefleksi tetapi mungkin karena belum mendalam sehingga kesalahan yang dilakukan ini belum diturutsertakan dengan permohonan maaf. Setelah puluhan tahun berlalu, barulah pada masa kepemimpinan Yohanes Paulus II, Gereja dengan berani dan tegas menyampaikan permohonan maaf kepada dunia khususnya ilmuwan atas kekeliruan yang dilakukan Gereja. Keberanian Yohanes Paulus II menyampaikan permohonan maaf menunjukkan kerendahan hatinya. Ia berani mengakui kesalahan.
            Karya-karya besarnya mencapai puncak kepenuhan dalam cita-citanya untuk dunia yang damai dan sejahtera. Ia tanpa takut mengkritisi negara-negara yang berperang. Dalam ensiklik sosialnya, Centesimus Annus, Paus menegaskan bahwa perang dan pembunuhan lebih menghasilkan kebencian, kemarahan serta balas dendam.  Ia mengajak setiap orang untuk saling mengampuni agar dunia yang adil dan damai bisa tercapai. Paus mengharapkan agar setiap negara lebih membangun “jembatan” dan bukan “tembok”. Ia mengatakan, jembatan akan menghubungkan yang terpisah sedangkan tembok akan memisahkan yang telah bersatu.
            Dalam masa kepemimpinannya yang terutama ia lakukan semata-mata demi kebahagian dan kesejahteraan umat yang dipimpinnya. Dari semua yang ia lakukan dan tunjukkan tidak salah jika kita katakan bahwa ia adalah seorang Paus yang berkharakter pelayan. Keberadaanya sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik tidak menjadikan dia sebagai seorang yang dilayani. Ia malah menjadikan dirinya sebagai pelayan. Kebaikan dan kebahagian umat yang dipimpinnya adalah yang terutama dan bukan kebahagian dirinya sendiri. Baginya, pemimpin adalah pelayan dan bukan penguasa. Penguasa cenderung untuk memeras dan tidak mendengarkan orang yang dipimpinnya. Berbeda dengan pelayan, hal utama yang ia perjuangkan adalah kebahagian orang yang dilayaninya dan hal ini telah ditunjukkan oleh Yohanes Paulus II.
            Sosok ini telah meninggalkan dunia. Kalaupun demikian ingatan tentang dirinya, tentang karya-karyanya, tentang keutamaannya masih segar dalam memori manusia (umat katolik khususnya). Paus yang kini telah menjadi Santo (yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober) kirannya patut untuk diteladani. Pertanyaan bagi kita, apa yang patut kita teladani? Menurut hemat penulis, begitu banyak keutamaan yang bisa kita teladani terutama dari kepemimpinannya. Pada kesempatan ini izinkanlah penulis untuk menyodorkan dua keutamaan yang bisa kita teladani terutama oleh pemimpin-pemimpin.
            Pertama, kerendahan hati. Kerendahan hati telah menjadi kepribadian dari sosok Yohanes Paulus II. Mengakui kesalahan sendiri dan memaafkan kesalahan orang lain adalah bukti nyata dari kerendahan hatinya. Mewakili Gereja yang adalah bagian dari dirinya, ia tanpa malu menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan pendahulunya. Ia mengakui bahwa Gereja pernah menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
            Peristiwa yang menunjukkan kerendahan hatinya tidak hanya sebatas mengakui kesalahan. Kerendahan hatinya juga ia tunjukkan tatkala memaafkan Ali Agca yang mencoba membunuhnya dengan menembakan peluru tepat di luar jantungnya. Terhadap Ali Agca ia tidak menaruh dendam. Sedikitpun ia tidak berpikir bahwa ia hampir mati tetapi yang ia pikirkan adalah syukur karena masih hidup. Dengan pemikiran ini, ia pun bisa memaafkan dan melupakan kesalahan Ali Agca.
            Dari teladan Yohanes Paulus II ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kerendahan hati menjadi hal yang terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kerendahan hati menjadikan ia memiliki kedekatan dengan orang yang dipimpinnya dan bisa mengetahui kebutuhan orang yang dipimpinnya. Hanya mungkin dengan kerendahan hati seorang pemimpin menjadi orang yang besar di mata orang yang dipimpinnya.
            Kedua, mendengarkan. Keutamaan lain yang patut diteladani dari sosok Yohanes Paulus II adalah antusiasnya untuk mendengarkan orang lain. Bukan menjadi hal yang sulit baginya untuk mengetahui kebutuhan umatnya karena ia terlebih dahulu mau mendengarkan mereka. Tatkala melawati suatu negara ia menyempatkan diri untuk mendengarkan para imam, orang tua dan kaum muda. Beliau menyadari bahwa mendengar sangatlah penting karena dengan mendengar ia bisa berbuat sesuatu yang menjadi kebutuhan dari orang yang dipimpinnya.
            Mendengarkan sangatlah penting bagi seorang pemimpin. Hanya karena terlebih dahulu mendengar maka ia akan memahami dan mengetahui kebutuhan orang yang dipimpinnya. Dan tidak pernah sebaliknya yaitu terlebih dahulu ia berbuat baru setelah itu ia mendengarkan. Jika demikian, kemungkinan untuk terjadinya penolakan oleh orang yang dipimpin lebih besar.
            Kerendahan hati dan mau mendengar sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Beragamnya persoalan dan kebutuhan manusia (rakyat) hanya mungkin dapat terselasaikan jika pemimpinnya adalah seorang yang mau mendengarkan dan rendah hati. Pemimpin harus menyadari bahwa mereka bukanlah penguasa yang hanya tahu memeras tetapi pemimpin adalah pelayan yang memiliki tanggung jawab untuk kebahagian orang yang dipimpinnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar